Gundang inventaris sastrawan Indonesia dan karyanya. Referensi terlengkap sastra Indonesia. Pengetahuan bagi khalayak pecinta sastra di tanah Air. Redaksi menerima masukan nama sastrawan dan karyanya untuk menambah isi gudang inventaris sastrawan Indonesia dan karyanya kirimkan lewat mr.zakaria.mrz@gmail.com
Sabtu, 21 September 2013
Ajip Rosidi (baca: Ayip Rosidi)
Ajip Rosidi (baca: Ayip Rosidi) adalah sastrawan Indonesia, penulis, budayawan, dosen, pendiri, dan redaktur beberapa penerbit, pendiri serta ketua Yayasan Kebudayaan Rancage. Ajip merupakan salah satu pengarang sajak dan cerita pendek yang paling produktif (326 judul karya dimuat dalam 22 majalah). Ajip juga aktif menulis drama, cerita rakyat, cerita wayang, bacaan anak-anak, lelucon, dan memoar serta menjadi editor beberapa bunga rampai.
Ajip menempuh pendidikan di Sekolah Rakyat Jatiwangi (1950), lalu melanjutkan ke Sekolah Menengah Pertama Negeri VIII Jakarta (1953) dan terakhir, Taman Madya, Taman Siswa Jakarta (1956). Ajip memang tak tamat SMA, tapi berkat hasil bacaan yang sangat luas dan karya-karyanya yang berlimpah, pada tahun 1967-1970, ia dipandang pantas untuk menjadi dosen luar biasa di Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran, Bandung. Kemudian pada 1981, berkat peranannya dalam bidang kesusastraan dan kebudayaan, Ajip diangkat sebagai guru besar tamu di Osaka Gaikokugo Daigaku (Universitas Bahasa Asing Osaka). Sejak itu, ia juga ditugasi mengajar di Tenri Daigaku (1982-1994) dan Kyoto Sangyo Daigaku (1982-1996).
Pada usia 12 tahun, saat masih duduk di bangku kelas VI Sekolah Rakyat, tulisan Ajip telah dimuat dalam ruang anak-anak di harian Indonesia Raya. Ketika SMP, Ajip bahkan sudah menekuni dunia penulisan dan penerbitan. Tulisan-tulisannya berbahasa Indonesia, Sunda, dan Jawa, bahkan beberapa karyanya diterjemahkan ke dalam bahasa asing, dimuat dalam bunga rampai atau terbit sebagai buku, seperti dalam bahasa Belanda, Cina, Inggris, Jepang, Perancis, Kroasia, Rusia, dll. Ajip dikenal sebagai sosok yang mengharumkan budaya Sunda di kancah internasional. Kini Ajip aktif mengelola beberapa lembaga nonprofit, seperti Yayasan Kebudayaan Rancag dan Pusat Studi Sunda
Dalam Kongres Kebudayaan tahun 1957 di Denpasar, mendapat Hadiah Sastra Nasional untuk sajak-sajak yang ditulisnya tahun 1955-1956
Dalam Kongres Kebudayaan tahun 1960 di Bandung, mendapat Hadiah Sastra Nasional untuk kumpulan cerita pendeknya yang berjudul Sebuah Rumah Buat Hari Tua
Tahun 1975 mendapat Cultural Award dari Pemerintah Australia
Tahun 1993 mendapat Hadiah Seni dari Pemerintah Republik Indonesia
Tahun 1994, terpilih sebagai salah seorang dari Sepuluh Putra Sunda yang membanggakan daerahnya
Tahun 1988, sejumlah sahabatnya di Bandung mengadakan peringatan Ajip Rosidi 50 Tahun dengan menerbitkan buku Ajip Rosidi Satengah Abad
Tahun 1999 mendapat Kun Santo Zui Hoo Shoo (Order of the Sacred Treasure, Gold Rays with Neck Ribbon) dari pemerintah Jepang
Tahun 2003 memperoleh Hadiah Mastera dari Brunei
Tahun 2004 mendapat Professor Teeuw Award dari Belanda
Tahun 2005, Paguyuban Panglawungan Sastera Sunda (PPSS) di Bandung menyelenggarakan acara dramatisasi, musikalisasi puisi, dan diskusi buku Ayang-ayang Gung dalam rangka 67 Ajip Rosidi (31 Januari 2005)
Tahun 2007 mendapat Anugrah Budaya Kota Bandung 2007
Mendapat Anugerah Hamengku Buwono IX 2008 untuk berbagai sumbangan positifnya bagi masyarakat Indonesia di bidang sastra dan budaya
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar