Gundang inventaris sastrawan Indonesia dan karyanya. Referensi terlengkap sastra Indonesia. Pengetahuan bagi khalayak pecinta sastra di tanah Air. Redaksi menerima masukan nama sastrawan dan karyanya untuk menambah isi gudang inventaris sastrawan Indonesia dan karyanya kirimkan lewat mr.zakaria.mrz@gmail.com
Rabu, 16 Oktober 2013
Nani Tandjung
Nani Tandjung Lahir di Sibolga 26 Agustus 1950 dari Ibu yang tegar bernama Nurdjani, disayangi oleh ayah bernama Chairuddin. Putranya empat orang semuanya lelaki, Dani, Dana, Dinova, dan Miko, teman mereka menjadi temannya. 1982 pernah mampir sebentar kuliah di Institut Kesenian Jakarta Jurusan Teater, 1988 di Fakultas Bahasa dan Sastra Indonesia IKIP Muhammadiyah Jakarta. Sekarang bekerja sebagai Pimpinan Teater Kail. Sebagai pemain teater sejak tahun 2000 bermain monolog, memberikan work shop teater serta membacakan puisi-puisinya di kota-kota di Jawa, Madura, Bali dan Sumatra
Tanti Skober
Tanti Skober anak perempuan Tandi Skober
Tanti Restiasih Skober, lahir di Medan tanggal 24 Nopember 1975. Anak pertama dari tiga bersaudara pasangan wong Jawa, Tandi Skober, seorang pensiunan Pegawai Negeri dan halak Batak Nuriah Daulay, ibu rumah tangga.
Menulis esai, cerpen, puisi di berbagai media cetak, seperti Republika, Media Indonesia, Suara Merdeka, Lampung Post, Pikiran Rakyat, Kartini, Media TV, Tabloid Mandala Bandung, Bandung Pos.
Pemenang Pertama Karya Tulis tingkat Nasional diselenggarakan Tempo,Kartini dan PGRI tahun 1990, menjadi Pemuda Pelopor tingkat Provinsi Jawa Barat tahun 1992. Peraih Naskah Istimewa, pada sayembara penulisan naskah cerita pada tahun 1998. Kumpulan Cerita Pendeknya telah diterbitkan berjudul “Bicara” (1992)
Kini staf pengajar di Jurusan Ilmu Sejarah Fakultas Sastra Unpad
Tanti Restiasih Skober, lahir di Medan tanggal 24 Nopember 1975. Anak pertama dari tiga bersaudara pasangan wong Jawa, Tandi Skober, seorang pensiunan Pegawai Negeri dan halak Batak Nuriah Daulay, ibu rumah tangga.
Menulis esai, cerpen, puisi di berbagai media cetak, seperti Republika, Media Indonesia, Suara Merdeka, Lampung Post, Pikiran Rakyat, Kartini, Media TV, Tabloid Mandala Bandung, Bandung Pos.
Pemenang Pertama Karya Tulis tingkat Nasional diselenggarakan Tempo,Kartini dan PGRI tahun 1990, menjadi Pemuda Pelopor tingkat Provinsi Jawa Barat tahun 1992. Peraih Naskah Istimewa, pada sayembara penulisan naskah cerita pada tahun 1998. Kumpulan Cerita Pendeknya telah diterbitkan berjudul “Bicara” (1992)
Kini staf pengajar di Jurusan Ilmu Sejarah Fakultas Sastra Unpad
Mega Vristia
Mega Vristia , sastrawati Subang
Mega Vristia yang lahir 29 September 1964 silam di Kalijati, Subang, Jawa Barat, dan dibesarkan di Prembangan, Turen, Malang sementara ini tinggal di Hong Kong. Putri ke tiga dari lima bersaudara pasangan H.Nanan Mariana dan H.Chozin ini mulai menggeluti dunia tulis menulis sejak tahun 2003. Saat itulah, perempuan kalem ini mengenal dunia maya (internet) meski meminjam dari majikannya. Selanjutnya, dia ikut bergabung pada milis-milis sastra di Yahoo Groups.
Perempuan yang akrab dipanggil ‘Bunda’ ini mengaku saat bergabung pada milis sastra di Yahoo Groups, dia memilih untuk ikut Milis Penyair, Milis Bunga Matahari, Milis Sastra Pembebasan dan Milis Apresiasi Sastra.
“Saya sangat beruntung bisa bergabung di milis-milis sastra tersebut. Bunda bisa banyak membaca karya-karya penulis senior di Tanah Air. Dari banyak membaca itulah modal awal belajar menulis karya sastra,” tutur wanita yang demen membaca buku ini.
Tahun 2005, dia meraih Esso Wenni Award, untuk sebuah karya puisinya, dilanjutkan memenangkan lomba puisi yang diadakan Milis Apresiasi Sastra, dan juga pernah meraih penghargaan di bidang puisi dari ‘Tobloid Apa Kabar’ di Hong Kong. Perempuan ini ternyata juga beberapa menerima penghargaan di bidang tulis lainnya.
Karyanya, baik berupa puisi, cerpen, essai, opini, pernah dimuat di berbagai media di Indonesia, seperti di Majalah Sabili, Majalah Aninda, Koran Sriwijaya Post, Jurnal Perempuan, Joernal Bumi Putra, Kompas.com, Baltyra, Sinar Harapan, dan lain-lain. Sedangkan di Hong Kong sendiri juga pernah dimuat di Tabloid Apa Kabar, Tabloid Suara dan Koran Berita Indonesia.
Karya-karya apik lainnya juga terdapat dalam buku Antologi Puisi-Cerpen Esai terbitan Sastra Pembebasan (2004), Puisi Trilogi Dian Sastro For President terbitan On/Off Book (2005). Penggagas buku Antologi Puisi untuk Munir, berjudul Nubuat Labirin Luka penerbit Sanyap Baru bekerja sama dengan Aceh Working Groups (2005). Kumpulan Cerita Mini, Selasar Kenangan, penerbit Akoer (2006). Antologi puisi 5 Kelopak Mata Bauhina, penggagas Bonari Nabonenar (2008).
Mega Vristia yang lahir 29 September 1964 silam di Kalijati, Subang, Jawa Barat, dan dibesarkan di Prembangan, Turen, Malang sementara ini tinggal di Hong Kong. Putri ke tiga dari lima bersaudara pasangan H.Nanan Mariana dan H.Chozin ini mulai menggeluti dunia tulis menulis sejak tahun 2003. Saat itulah, perempuan kalem ini mengenal dunia maya (internet) meski meminjam dari majikannya. Selanjutnya, dia ikut bergabung pada milis-milis sastra di Yahoo Groups.
Perempuan yang akrab dipanggil ‘Bunda’ ini mengaku saat bergabung pada milis sastra di Yahoo Groups, dia memilih untuk ikut Milis Penyair, Milis Bunga Matahari, Milis Sastra Pembebasan dan Milis Apresiasi Sastra.
“Saya sangat beruntung bisa bergabung di milis-milis sastra tersebut. Bunda bisa banyak membaca karya-karya penulis senior di Tanah Air. Dari banyak membaca itulah modal awal belajar menulis karya sastra,” tutur wanita yang demen membaca buku ini.
Tahun 2005, dia meraih Esso Wenni Award, untuk sebuah karya puisinya, dilanjutkan memenangkan lomba puisi yang diadakan Milis Apresiasi Sastra, dan juga pernah meraih penghargaan di bidang puisi dari ‘Tobloid Apa Kabar’ di Hong Kong. Perempuan ini ternyata juga beberapa menerima penghargaan di bidang tulis lainnya.
Karyanya, baik berupa puisi, cerpen, essai, opini, pernah dimuat di berbagai media di Indonesia, seperti di Majalah Sabili, Majalah Aninda, Koran Sriwijaya Post, Jurnal Perempuan, Joernal Bumi Putra, Kompas.com, Baltyra, Sinar Harapan, dan lain-lain. Sedangkan di Hong Kong sendiri juga pernah dimuat di Tabloid Apa Kabar, Tabloid Suara dan Koran Berita Indonesia.
Karya-karya apik lainnya juga terdapat dalam buku Antologi Puisi-Cerpen Esai terbitan Sastra Pembebasan (2004), Puisi Trilogi Dian Sastro For President terbitan On/Off Book (2005). Penggagas buku Antologi Puisi untuk Munir, berjudul Nubuat Labirin Luka penerbit Sanyap Baru bekerja sama dengan Aceh Working Groups (2005). Kumpulan Cerita Mini, Selasar Kenangan, penerbit Akoer (2006). Antologi puisi 5 Kelopak Mata Bauhina, penggagas Bonari Nabonenar (2008).
Minggu, 29 September 2013
LEON AGUSTA
LEON AGUSTA
Leon Agusta dilahirkan di Sangiran, Maninjau, Sumatera Barat, 5 Agustus 1938. Karya-karyanya: Monumen Safari (1966), Catatan Putih (1976), Di Bawah Bayangan Sang Kekasih (1978), Hukla (1979), Berkemah dengan Putri Bangau (1981), Hedona dan Masochi (1984).
Leon Agusta dilahirkan di Sangiran, Maninjau, Sumatera Barat, 5 Agustus 1938. Karya-karyanya: Monumen Safari (1966), Catatan Putih (1976), Di Bawah Bayangan Sang Kekasih (1978), Hukla (1979), Berkemah dengan Putri Bangau (1981), Hedona dan Masochi (1984).
Umbu Landu Paranggi
Umbu Landu Paranggi
Umbu Landu Paranggi dilahirkan di Sumba, Nusa Tenggara Timur, 10 Agustus 1943. Bersama Ragil Suwarna Pagolapati, Teguh Ranusastra Asmara, Iman Budhi Santosa, mendirikan Persada Studi Klub, 5 Maret 1969, yang di kemudian hari melahirkan sejumlah penyair. Karya-karya penyair yang terakhir bekerja sebagai redaktur Bali Post ini adalah: Melodia, Maramba Ruba, Sarang.
Umbu Landu Paranggi dilahirkan di Sumba, Nusa Tenggara Timur, 10 Agustus 1943. Bersama Ragil Suwarna Pagolapati, Teguh Ranusastra Asmara, Iman Budhi Santosa, mendirikan Persada Studi Klub, 5 Maret 1969, yang di kemudian hari melahirkan sejumlah penyair. Karya-karya penyair yang terakhir bekerja sebagai redaktur Bali Post ini adalah: Melodia, Maramba Ruba, Sarang.
Saini K.M.
Saini K.M.
Saini K.M. dilahirkan di Sumedang, Jawa Barat, 16 Juni 1938. Penyair yang bertahun-tahun mengasuh rubrik “Pertemuan Kecil” di Pikiran Rakyat Bandung ini terakhir menjabat Direktur Jenderal Kesenian Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI. Sejumlah penyair yang lahir dan berkembang dari kelembutan dan ketajaman kritiknya di “Pertemuan Kecil” antara lain: Sanento Yuliman, Acep Zamzam Noor, Agus R. Sarjono, Soni Farid Maulana, Beni Setia, Cecep Syamsul Hari. Karya-karyanya meliputi puisi, karya sastra drama, dan esai, di antaranya: Pangeran Sunten Jaya (1973), Ben Go Tun (1977), Egon (1978), Serikat Kaca Mata Hitam (1979), Sang Prabu (1981), Kerajaan Burung (1980; pemenang Sayembara Direktorat Kesenian Depdikbud), Sebuah Rumah di Argentina (1980), Pangeran Geusan Ulun (1963), Nyanyian Tanah Air (1968), Puragabaya (1976), Siapa Bilang Saya Godot (1977), Restoran Anjing (1979), Rumah Cermin (1979), Beberapa Gagasan Teater (1981), Panji Koming (1984), Beberapa Dramawan dan Karyanya (1985), Ken Arok (185), Apresiasi Kesusastraan (1986; bersama Jakob Sumardjo [ed.]), Protes Sosial dalam Sastra (1986), Teater Modern Indonesia dan Beberapa Masalahnya (1987), Sepuluh Orang Utusan (1989), Puisi dan Beberapa Masalahnya (1993; Agus R. Sarjono [ed.]). Buku terakhirnya yang merupakan seleksi dari seluruh kumpulan puisinya yang sudah maupun yang belum dipublikasikan adalah Nyanyian Tanah Air (2000).
Saini K.M. dilahirkan di Sumedang, Jawa Barat, 16 Juni 1938. Penyair yang bertahun-tahun mengasuh rubrik “Pertemuan Kecil” di Pikiran Rakyat Bandung ini terakhir menjabat Direktur Jenderal Kesenian Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI. Sejumlah penyair yang lahir dan berkembang dari kelembutan dan ketajaman kritiknya di “Pertemuan Kecil” antara lain: Sanento Yuliman, Acep Zamzam Noor, Agus R. Sarjono, Soni Farid Maulana, Beni Setia, Cecep Syamsul Hari. Karya-karyanya meliputi puisi, karya sastra drama, dan esai, di antaranya: Pangeran Sunten Jaya (1973), Ben Go Tun (1977), Egon (1978), Serikat Kaca Mata Hitam (1979), Sang Prabu (1981), Kerajaan Burung (1980; pemenang Sayembara Direktorat Kesenian Depdikbud), Sebuah Rumah di Argentina (1980), Pangeran Geusan Ulun (1963), Nyanyian Tanah Air (1968), Puragabaya (1976), Siapa Bilang Saya Godot (1977), Restoran Anjing (1979), Rumah Cermin (1979), Beberapa Gagasan Teater (1981), Panji Koming (1984), Beberapa Dramawan dan Karyanya (1985), Ken Arok (185), Apresiasi Kesusastraan (1986; bersama Jakob Sumardjo [ed.]), Protes Sosial dalam Sastra (1986), Teater Modern Indonesia dan Beberapa Masalahnya (1987), Sepuluh Orang Utusan (1989), Puisi dan Beberapa Masalahnya (1993; Agus R. Sarjono [ed.]). Buku terakhirnya yang merupakan seleksi dari seluruh kumpulan puisinya yang sudah maupun yang belum dipublikasikan adalah Nyanyian Tanah Air (2000).
Rendra
Rendra dilahirkan di Solo, Jawa Tengah, 7 November 1935. Sepulang memperdalam pengetahuan drama di American Academy of Dramatical Arts, ia mendirikan Bengkel Teater. Sajak-sajaknya mulai dikenal luas sejak tahun 1950-an. Antara April-Oktober 1978 ditahan Pemerintah Orde Baru karena pembacaan sajak-sajak protes sosialnya di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Kumpulan puisinya: Balada Orang Tercinta (1956; meraih Hadiah Sastra Nasional BMKN 1955-56), Empat Kumpulan Sajak (1961), Blues untuk Bonnie (1971), Sajak-sajak Sepatu Tua (1972), Potret Pembangunan dalam Puisi (1983), Disebabkan oleh Angin (1993), Orang-orang Rangkasbitung (1993), Perjalanan Bu Aminah (1997), Mencari Bapak (1997). Buku-buku puisinya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, yaitu: Indonesian Poet in New York (1971; diterjemahkan Harry Aveling, et.al.), Rendra: Ballads and Blues (1974; Harry Aveling, et.al.), Contemporary Indonesian Poetry (1975; diterjemahkan Harry Aveling). Ia pun menerjemahkan karya-karya drama klasik dunia, yaitu: Oidipus Sang Raja (1976), Oidipus di Kolonus (1976), Antigone (1976), ketiganya karya Sophocles, Informan (1968; Bertolt Brecht), SLA (1970; Arnold Pearl). Pada 1970, Pemerintah RI memberinya Anugerah Seni, dan lima tahun setelah itu, ia memperoleh penghargaan dari Akademi Jakarta.
Sapardi Djoko Damono
Sapardi Djoko Damono
Sapardi Djoko Damono dilahirkan di Solo, Jawa Tengah, 20 Maret 1940. Puisi-puisi pengajar di Fakultas Sastra Universitas Indonesia sejak 1975 dan pernah aktif sebagai redaktur majalah sastra-budaya Basis, Horison, Kalam, Tenggara (Malaysia) ini adalah: Duka-Mu Abadi (1969), Mata Pisau (1974), Perahu Kertas (1983; mendapat Hadiah sastra DKJ 1983), Sihir Hujan (1984; pemenang hadiah pertama Puisi Putera II Malaysia 1983), Hujan Bulan Juni (1994), Arloji (1998), Ayat-ayat Api (2000). Sedangkan karya-karya sastra dunia yang diterjemahkannya: Lelaki Tua dan Laut (1973; Ernest Hemingway), Sepilihan Sajak George Seferis (1975), Puisi Klasik Cina (1976), Lirik Klasik Parsi (1977), Afrika yang Resah (1988; Okot p’Bitek).
Sapardi Djoko Damono dilahirkan di Solo, Jawa Tengah, 20 Maret 1940. Puisi-puisi pengajar di Fakultas Sastra Universitas Indonesia sejak 1975 dan pernah aktif sebagai redaktur majalah sastra-budaya Basis, Horison, Kalam, Tenggara (Malaysia) ini adalah: Duka-Mu Abadi (1969), Mata Pisau (1974), Perahu Kertas (1983; mendapat Hadiah sastra DKJ 1983), Sihir Hujan (1984; pemenang hadiah pertama Puisi Putera II Malaysia 1983), Hujan Bulan Juni (1994), Arloji (1998), Ayat-ayat Api (2000). Sedangkan karya-karya sastra dunia yang diterjemahkannya: Lelaki Tua dan Laut (1973; Ernest Hemingway), Sepilihan Sajak George Seferis (1975), Puisi Klasik Cina (1976), Lirik Klasik Parsi (1977), Afrika yang Resah (1988; Okot p’Bitek).
Seno Gumira Ajidarma
Seno Gumira Ajidarma
Seno Gumira Ajidarma dilahirkan di Boston, Amerika Serikat, 19 Juni 1958. Karya-karya penulis cerita pendek yang sejak 1985 bekerja di majalah Jakarta Jakarta ini antara lain: Mati Mati Mati (1978), Bayi Mati (1978), Catatan Mira Sato (1978), Manusia Kamar (1978), Penembak Misterius (1993), Saksi Mata (1994; kumpulan cerita pendek terbaik versi Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Depdikbud RI 1994), Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi (1995), Negeri Kabut (1996), Jazz, Parfum, dan Insiden (1992). Cerpennya, “Pelajaran Mengarang”, dipilih sebagai cerpen terbaik Kompas 1992, dan cerpen-cerpennya yang lain hampir setiap tahun terpilih masuk dalam antologi cerpen terbaik surat kabar itu. Pada 1995 ia memperoleh penghargaan SEA Write Award.
Seno Gumira Ajidarma dilahirkan di Boston, Amerika Serikat, 19 Juni 1958. Karya-karya penulis cerita pendek yang sejak 1985 bekerja di majalah Jakarta Jakarta ini antara lain: Mati Mati Mati (1978), Bayi Mati (1978), Catatan Mira Sato (1978), Manusia Kamar (1978), Penembak Misterius (1993), Saksi Mata (1994; kumpulan cerita pendek terbaik versi Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Depdikbud RI 1994), Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi (1995), Negeri Kabut (1996), Jazz, Parfum, dan Insiden (1992). Cerpennya, “Pelajaran Mengarang”, dipilih sebagai cerpen terbaik Kompas 1992, dan cerpen-cerpennya yang lain hampir setiap tahun terpilih masuk dalam antologi cerpen terbaik surat kabar itu. Pada 1995 ia memperoleh penghargaan SEA Write Award.
Umar Kayam
Umar Kayam dilahirkan di Ngawi, Jawa Timur, 30 April 1932. Meraih M.A. di Universitas New York (1963), dan Ph.D. dua tahun kemudian dari Universitas Cornell, Amerika Serikat. Guru Besar Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada hingga pensiunnya di tahun 1997 ini adalah anggota penyantun/penasehat majalah sastra Horison sebelum mengundurkan pada 1 September 1993. Pada 1987, ia meraih SEA Write Award. Karya-karyanya: Seribu Kunang-kunang di Manhattan (1972), Totok dan Toni (1975), Sri Sumarah dan Bawuk (1975), Seni, Tradisi, Masyarakat (1981), Semangat Indonesia: Suatu Perjalanan Bangsa (1985), Para Priyayi (1992; mendapat Hadiah Yayasan Buku Utama Departemen P dan K 1995), Mangan Ora Mangan Kumpul (1990), Sugih Tanpa Banda (1994), Jalan Menikung (1999). Cerpen-cerpen-cerpennya diterjemahkan Harry Aveling dan diterbitkan dalam Sri Sumarah and Other Stories (1976) dan Armageddon (1976).
Abdul Hadi WM
Abdul Hadi WM
Abdul Hadi WM dilahirkan di Sumenep, Madura, 24 Juni 1946. Antara 1967-83 pernah menjadi redaktur Gema Mahasiswa, Mahasiswa Indonesia, Budaya Jaya, Berita Buana, dan penerbit Balai Pustaka. Pada 1973-74 mengikuti International Writing Program di Iowa University, Amerika Serikat. Karya-karyanya: Riwayat (1967) Laut Belum Pasang (1971), Cermin (1975), Potret Panjang Seorang Pengunjung Pantai Sanur (1975), Meditasi (1976; meraih hadiah Buku Puisi Terbaik Dewan Kesenian Jakarta 1976-77), Tergantung Pada Angin (1977), Anak Laut Anak Angin (1983; mengantarnya menerima penghargaan SEA Write Award 1985). Sejumlah sajaknya diterjemahkan Harry Aveling dan disertakan dalam antologi Arjuna in Meditation (1976). Karya-karya terjemahannya: Faus (Goethe), Rumi: Sufi dan Penyair (1985), Pesan dari Timur (1985; Mohammad Iqbal), Iqbal: Pemikir Sosial Islam dan Sajak-sajaknya (1986; bersama Djohan Effendi), Kumpulan Sajak Iqbal: Pesan kepada Bangsa-bangsa Timur (1985), Kehancuran dan Kebangunan: Kumpulan Puisi Jepang (1987). Kumpulan esainya, Kembali ke Akar Kembali ke Sumber diluncurkan pada 1999, dua puluh tahun setelah ia menerima Anugerah Seni dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.
Tuhhan Kita Begitu Dekat adalah buku kumpulan puisinya yang populair.
Abdul Hadi WM dilahirkan di Sumenep, Madura, 24 Juni 1946. Antara 1967-83 pernah menjadi redaktur Gema Mahasiswa, Mahasiswa Indonesia, Budaya Jaya, Berita Buana, dan penerbit Balai Pustaka. Pada 1973-74 mengikuti International Writing Program di Iowa University, Amerika Serikat. Karya-karyanya: Riwayat (1967) Laut Belum Pasang (1971), Cermin (1975), Potret Panjang Seorang Pengunjung Pantai Sanur (1975), Meditasi (1976; meraih hadiah Buku Puisi Terbaik Dewan Kesenian Jakarta 1976-77), Tergantung Pada Angin (1977), Anak Laut Anak Angin (1983; mengantarnya menerima penghargaan SEA Write Award 1985). Sejumlah sajaknya diterjemahkan Harry Aveling dan disertakan dalam antologi Arjuna in Meditation (1976). Karya-karya terjemahannya: Faus (Goethe), Rumi: Sufi dan Penyair (1985), Pesan dari Timur (1985; Mohammad Iqbal), Iqbal: Pemikir Sosial Islam dan Sajak-sajaknya (1986; bersama Djohan Effendi), Kumpulan Sajak Iqbal: Pesan kepada Bangsa-bangsa Timur (1985), Kehancuran dan Kebangunan: Kumpulan Puisi Jepang (1987). Kumpulan esainya, Kembali ke Akar Kembali ke Sumber diluncurkan pada 1999, dua puluh tahun setelah ia menerima Anugerah Seni dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.
Tuhhan Kita Begitu Dekat adalah buku kumpulan puisinya yang populair.
Danarto
Danarto
Danarto dilahirkan di Sragen, Jawa Tengah, 27 Juni 1940. Karya-karya penerima SEA Write Award 1988 ini adalah: Godlob (1975), Adam Ma`rifat (1982; meraih Hadiah Sastra Dewan Kesenian Jakarta dan Yayasan Buku Utama pada tahun yang sama), Berhala (1987; memenangkan hadiah Yayasan Buku Utama Departemen P & K 1987), Orang Jawa Naik Haji (1984), Obrok Owok-owok, Ebrek Ewek-ewek (1976), Bel Geduwel Beh (1976), Gergasi (1993), Gerak-gerak Allah (1996), dan Asmaraloka (1999).
Danarto dilahirkan di Sragen, Jawa Tengah, 27 Juni 1940. Karya-karya penerima SEA Write Award 1988 ini adalah: Godlob (1975), Adam Ma`rifat (1982; meraih Hadiah Sastra Dewan Kesenian Jakarta dan Yayasan Buku Utama pada tahun yang sama), Berhala (1987; memenangkan hadiah Yayasan Buku Utama Departemen P & K 1987), Orang Jawa Naik Haji (1984), Obrok Owok-owok, Ebrek Ewek-ewek (1976), Bel Geduwel Beh (1976), Gergasi (1993), Gerak-gerak Allah (1996), dan Asmaraloka (1999).
N. Riantiarno
N. Riantiarno
N. Riantiarno dilahirkan di Cirebon, Jawa Barat, 6 Juni 1949. Peserta International Writing Program di Iowa University, Amerika Serikat, pada 1978 yang dikenal pula sebagai pendiri dan pemimpin Teater Koma ini, membidani kelahiran majalah Zaman dan terakhir memimpin majalah Matra. Karya-karyanya antara lain Opera Kecoa, Ranjang Bayi dan Percintaan Senja (kedua novel yang disebut terakhir masing-masing memenangkan sayembara majalah Femina dan Kartini), Semar Gugat (1995), Cinta Yang Serakah (1978).
N. Riantiarno dilahirkan di Cirebon, Jawa Barat, 6 Juni 1949. Peserta International Writing Program di Iowa University, Amerika Serikat, pada 1978 yang dikenal pula sebagai pendiri dan pemimpin Teater Koma ini, membidani kelahiran majalah Zaman dan terakhir memimpin majalah Matra. Karya-karyanya antara lain Opera Kecoa, Ranjang Bayi dan Percintaan Senja (kedua novel yang disebut terakhir masing-masing memenangkan sayembara majalah Femina dan Kartini), Semar Gugat (1995), Cinta Yang Serakah (1978).
Budi Darma
Budi Darma
Budi Darma dilahirkan di Rembang, Jawa Tengah, 25 April 1937. Meraih M.A. dan Ph.D di Indiana University, Bloomington, Amerika Serikat. Novelis yang pernah menjadi Rektor IKIP Surabaya ini meraih SEA Write Award pada 1984. Karya-karyanya: Orang-orang Bloomington (1980), Solilokui (1983), Olenka (1983; pemenang pertama Sayembara Mengarang Roman Dewan Kesenian Jakarta 1980 dan Hadiah Sastra DKJ 1983), Sejumlah Esai Sastra (1984), Rafilus (1988), Harmonium (1995), Ny Talis (1996). Sebuah cerpennya, “Derabat”, terpilih sebagai cerpen terbaik Kompas 1999 dan dipublikasikan pada buku berjudul sama.
Budi Darma dilahirkan di Rembang, Jawa Tengah, 25 April 1937. Meraih M.A. dan Ph.D di Indiana University, Bloomington, Amerika Serikat. Novelis yang pernah menjadi Rektor IKIP Surabaya ini meraih SEA Write Award pada 1984. Karya-karyanya: Orang-orang Bloomington (1980), Solilokui (1983), Olenka (1983; pemenang pertama Sayembara Mengarang Roman Dewan Kesenian Jakarta 1980 dan Hadiah Sastra DKJ 1983), Sejumlah Esai Sastra (1984), Rafilus (1988), Harmonium (1995), Ny Talis (1996). Sebuah cerpennya, “Derabat”, terpilih sebagai cerpen terbaik Kompas 1999 dan dipublikasikan pada buku berjudul sama.
Kuntowijoyo
Kuntowijoyo
Kuntowijoyo dilahirkan di Bantul, Yogyakarta, 18 September 1943. Di tahun 1974 meraih MA dari Universitas Connecticut, dan enam tahun kemudian Ph.D. dari Universitas Columbia, keduanya di Amerika Serikat. Dikenal sebagai sejarawan, novelis, penulis cerpen, esais, dan penyair. Karya-karyanya antara lain: Kereta Api yang Berangkat Pagi Hari (1966), Rumput-rumput Danau Bento (1969), Tidak Ada Waktu bagi Nyonya Fatma (1972), Barda dan Cartas (1972), Topeng Kayu (1973; mendapat hadiah kedua Sayembara Penulisan Lakon DKJ 1973), Isyarat (1976), Suluk Awang Uwung (1976), Khotbah di Atas Bukit (1976), Dinamika Umat Islam Indonesia (1985), Budaya dan Masyarakat (1987), Paradigma Islam, Interpretasi untuk Aksi (1991), Radikalisasi Petani (1993), Dilarang Mencintai Bunga-bunga (1993), Pasar (1995). Kedua cerpennya dijadikan dua judul buku antologi cerpen penting: Laki-laki yang Kawin dengan Peri dan Sampan Asmara (masing-masing cerpen terbaik harian Kompas 1994 dan 1995).
Kuntowijoyo dilahirkan di Bantul, Yogyakarta, 18 September 1943. Di tahun 1974 meraih MA dari Universitas Connecticut, dan enam tahun kemudian Ph.D. dari Universitas Columbia, keduanya di Amerika Serikat. Dikenal sebagai sejarawan, novelis, penulis cerpen, esais, dan penyair. Karya-karyanya antara lain: Kereta Api yang Berangkat Pagi Hari (1966), Rumput-rumput Danau Bento (1969), Tidak Ada Waktu bagi Nyonya Fatma (1972), Barda dan Cartas (1972), Topeng Kayu (1973; mendapat hadiah kedua Sayembara Penulisan Lakon DKJ 1973), Isyarat (1976), Suluk Awang Uwung (1976), Khotbah di Atas Bukit (1976), Dinamika Umat Islam Indonesia (1985), Budaya dan Masyarakat (1987), Paradigma Islam, Interpretasi untuk Aksi (1991), Radikalisasi Petani (1993), Dilarang Mencintai Bunga-bunga (1993), Pasar (1995). Kedua cerpennya dijadikan dua judul buku antologi cerpen penting: Laki-laki yang Kawin dengan Peri dan Sampan Asmara (masing-masing cerpen terbaik harian Kompas 1994 dan 1995).
Motinggo Busye
Motinggo Busye
Motinggo Busye dilahirkan di Kupangkota, Lampung, 21 November 1937, dan meninggal di Jakarta, 18 Juni 1999. Menulis banyak novel, menyutradarai film, dan melukis. Karya-karyanya antara lain: drama Malam Jahanam (1958; memenangkan hadiah pertama Sayembara Penulisan Drama Departemen P & K 1958), novel Malam Jahanam (1962), Badai Sampai Sore (1962), Tidak Menyerah (1962), Keberanian Manusia (1962), 1949 (1963), Bibi Marsiti (1963), Hari Ini Tidak Ada Cinta (1963), Perempuan Itu Bernama Barabah (1963), Dosa Kita Semua (1963), Tiada Belas Kasihan (1963), Nyonya dan Nyonya (1963), Sejuta Matahari (1963), Matahari dalam Kelam (1963), Nasehat untuk Anakku (1963), Malam Pengantin di Bukit Kera (1963), Cross Mama (1966), Tante Maryati (1967), Sri Ayati (1968), Retno Lestari (1968), Dia Musuh Keluarga (1968), Madu Prahara (1985). Cerita pendeknya, “Dua Tengkorak Kepala”, terpilih sebagai cerpen terbaik Kompas dan dipublikasikan dalam kumpulan cerita pendek berjudul sama (2000).
Motinggo Busye dilahirkan di Kupangkota, Lampung, 21 November 1937, dan meninggal di Jakarta, 18 Juni 1999. Menulis banyak novel, menyutradarai film, dan melukis. Karya-karyanya antara lain: drama Malam Jahanam (1958; memenangkan hadiah pertama Sayembara Penulisan Drama Departemen P & K 1958), novel Malam Jahanam (1962), Badai Sampai Sore (1962), Tidak Menyerah (1962), Keberanian Manusia (1962), 1949 (1963), Bibi Marsiti (1963), Hari Ini Tidak Ada Cinta (1963), Perempuan Itu Bernama Barabah (1963), Dosa Kita Semua (1963), Tiada Belas Kasihan (1963), Nyonya dan Nyonya (1963), Sejuta Matahari (1963), Matahari dalam Kelam (1963), Nasehat untuk Anakku (1963), Malam Pengantin di Bukit Kera (1963), Cross Mama (1966), Tante Maryati (1967), Sri Ayati (1968), Retno Lestari (1968), Dia Musuh Keluarga (1968), Madu Prahara (1985). Cerita pendeknya, “Dua Tengkorak Kepala”, terpilih sebagai cerpen terbaik Kompas dan dipublikasikan dalam kumpulan cerita pendek berjudul sama (2000).
Akhudiat
Akhudiat
Akhudiat dilahirkan di Banyuwangi, Jawa Timur, 5 Mei 1946. Peserta International Writing Program di Iowa University, Amerika Serikat, pada 1975. Sejumlah naskah dramanya memenangkan Sayembara Penulisan Naskah Sandiwara Dewan Kesenian Jakarta. Karya-karyanya antara lain: Gerbong-gerbong Tua Pasar Senen (1971), Grafito (1972), Rumah Tak Beratap Rumah Tak Berasap dan Langit Dekat dan Langit Jauh (1974), Jaka Tarub (1974), Bui (1975), Re (1977), Suminten dan Kang Lajim (1982), dan Memo Putih (2000).
Akhudiat dilahirkan di Banyuwangi, Jawa Timur, 5 Mei 1946. Peserta International Writing Program di Iowa University, Amerika Serikat, pada 1975. Sejumlah naskah dramanya memenangkan Sayembara Penulisan Naskah Sandiwara Dewan Kesenian Jakarta. Karya-karyanya antara lain: Gerbong-gerbong Tua Pasar Senen (1971), Grafito (1972), Rumah Tak Beratap Rumah Tak Berasap dan Langit Dekat dan Langit Jauh (1974), Jaka Tarub (1974), Bui (1975), Re (1977), Suminten dan Kang Lajim (1982), dan Memo Putih (2000).
Ike Soepomo
Ike Soepomo
Ike Soepomo dilahirkan di Serang, Banten, 28 Agustus 1946. Menulis sejak duduk di Sekolah Menengah Pertama. Hampir seluruh novelnya telah difilmkan. Selain novel, ia menulis cerita pendek, novelet, artikel, skenario film. Karya-karyanya antara lain: Untaian yang Terberai, Anyelir Merah Jambu, Putihnya Harapan, Permata, Lembah Hijau, Malam Hening Kasih Bening, Mawar Jingga, Kembang Padang Kelabu, Kabut Sutra Ungu. Film yang didasarkan pada karyanya yang paling populer, Kabut Sutra Ungu, meraih beberapa piala “Citra” serta penghargaan Festival Film Asia di Bali. Sedangkan beberapa skenario film yang ditulisnya adalah: Hati Selembut Salju, Mawar Jingga, Hilangnya Sebuah Mahkota.
Ike Soepomo dilahirkan di Serang, Banten, 28 Agustus 1946. Menulis sejak duduk di Sekolah Menengah Pertama. Hampir seluruh novelnya telah difilmkan. Selain novel, ia menulis cerita pendek, novelet, artikel, skenario film. Karya-karyanya antara lain: Untaian yang Terberai, Anyelir Merah Jambu, Putihnya Harapan, Permata, Lembah Hijau, Malam Hening Kasih Bening, Mawar Jingga, Kembang Padang Kelabu, Kabut Sutra Ungu. Film yang didasarkan pada karyanya yang paling populer, Kabut Sutra Ungu, meraih beberapa piala “Citra” serta penghargaan Festival Film Asia di Bali. Sedangkan beberapa skenario film yang ditulisnya adalah: Hati Selembut Salju, Mawar Jingga, Hilangnya Sebuah Mahkota.
D. Zawawi Imron
D. Zawawi Imron
D. Zawawi Imron dilahirkan di Sumenep, Madura, 1946. Karya-karya penyair yang meraih Hadiah Utama dalam lomba penulisan puisi AN-Teve pada 1995 ini, antara lain: Semerbak Mayang (1977), Madura Akulah Lautmu (1978), Celurit Emas (1980), Bulan Tertusuk Ilalang (1982), Nenek Moyangku Airmata (1985; mendapat hadiah Yayasan Buku Utama Departemen P & K, 1985), Bantalku Ombak Selimutku Angin (1996), Lautmu Tak Habis Gelombang (1996), Madura Akulah Darahmu (1999).
D. Zawawi Imron dilahirkan di Sumenep, Madura, 1946. Karya-karya penyair yang meraih Hadiah Utama dalam lomba penulisan puisi AN-Teve pada 1995 ini, antara lain: Semerbak Mayang (1977), Madura Akulah Lautmu (1978), Celurit Emas (1980), Bulan Tertusuk Ilalang (1982), Nenek Moyangku Airmata (1985; mendapat hadiah Yayasan Buku Utama Departemen P & K, 1985), Bantalku Ombak Selimutku Angin (1996), Lautmu Tak Habis Gelombang (1996), Madura Akulah Darahmu (1999).
Darman Moenir
Darman Moenir
Darman Moenir dilahirkan di Batusangkar, Sumatera Barat, 27 Juli 1952. Ia mengikuti International Writing Program di Iowa University, Amerika Serikat, pada 1988, dan empat tahun kemudian menerima Hadiah Sastra dari Pemerintah RI. Karya-karyanya antara lain: Gumam (1976), Bako (1983; novel pemenang hadiah utama Sayembara Mengarang Roman Dewan Kesenian Jakarta 1980), Aku Keluargaku Tetanggaku (pemenenang kedua Sayembara Novel Kartini 1987), Jelaga Pusaka Tinggi (1997). Karyanya yang lain dapat ditemukan pula dalam antologi Cerpen-cerpen Nusantara Mutakhir (1991; Suratman Markasan .
Darman Moenir dilahirkan di Batusangkar, Sumatera Barat, 27 Juli 1952. Ia mengikuti International Writing Program di Iowa University, Amerika Serikat, pada 1988, dan empat tahun kemudian menerima Hadiah Sastra dari Pemerintah RI. Karya-karyanya antara lain: Gumam (1976), Bako (1983; novel pemenang hadiah utama Sayembara Mengarang Roman Dewan Kesenian Jakarta 1980), Aku Keluargaku Tetanggaku (pemenenang kedua Sayembara Novel Kartini 1987), Jelaga Pusaka Tinggi (1997). Karyanya yang lain dapat ditemukan pula dalam antologi Cerpen-cerpen Nusantara Mutakhir (1991; Suratman Markasan .
Ediruslan Pe Amanriza
Ediruslan Pe Amanriza
Ediruslan Pe Amanriza dilahirkan di Pekanbaru, Riau, 17 Agustus 1947. Kuliahnya di Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran Bandung tidak ia selesaikan. Kumpulan puisinya: Surat-suratku kepada GN, Vogabon, Bukit Kawin, Wangkang. Sementara novel-novelnya: Di Bawah Matahari, Taman, Jakarta di Manakah Sri, Nakhoda (mendapat Hadiah Sayembara mengarang Roman DKJ 1977), Panggil Aku Sakai (1987) Ke Langit (1993), Koyan, Jembatan, Dikalahkan Sang Sapurba (2000). Kumpulan cerita pendeknya: Renungkanlah Markasan (1997).
Ediruslan Pe Amanriza dilahirkan di Pekanbaru, Riau, 17 Agustus 1947. Kuliahnya di Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran Bandung tidak ia selesaikan. Kumpulan puisinya: Surat-suratku kepada GN, Vogabon, Bukit Kawin, Wangkang. Sementara novel-novelnya: Di Bawah Matahari, Taman, Jakarta di Manakah Sri, Nakhoda (mendapat Hadiah Sayembara mengarang Roman DKJ 1977), Panggil Aku Sakai (1987) Ke Langit (1993), Koyan, Jembatan, Dikalahkan Sang Sapurba (2000). Kumpulan cerita pendeknya: Renungkanlah Markasan (1997).
Frans Nadjira
Frans Nadjira
Frans Nadjira dilahirkan di Makassar, 3 September 1942. Sastrawan yang juga pelukis ini pada 1979 mengikuti Iowa International Writing Program, di Iowa City, Amerika Serikat. Puisi dan cerpennya tersebar di berbagai media publikasi, antara lain di Horison, Sinar Harapan, Bali Post, AIA News (Australia), termasuk di beberapa antologi bersama Laut Biru Langit Biru, Puisi Asean, Tonggak, The Spirit That Moves Us (USA), On Foreign Shores, Teh Ginseng, A Bonsai’s Morning, dan Ketika Kata Ketika Warna. Kumpulan puisinya: Jendela dan Springs of Fire Springs of Tears, dan kumpulan cerpennya Bercakap-cakap di Bawah Guguran Daun.
Frans Nadjira dilahirkan di Makassar, 3 September 1942. Sastrawan yang juga pelukis ini pada 1979 mengikuti Iowa International Writing Program, di Iowa City, Amerika Serikat. Puisi dan cerpennya tersebar di berbagai media publikasi, antara lain di Horison, Sinar Harapan, Bali Post, AIA News (Australia), termasuk di beberapa antologi bersama Laut Biru Langit Biru, Puisi Asean, Tonggak, The Spirit That Moves Us (USA), On Foreign Shores, Teh Ginseng, A Bonsai’s Morning, dan Ketika Kata Ketika Warna. Kumpulan puisinya: Jendela dan Springs of Fire Springs of Tears, dan kumpulan cerpennya Bercakap-cakap di Bawah Guguran Daun.
Asrul Sani
Asrul Sani
Asrul Sani dilahirkan di Rao, Sumatera Barat, 10 Juni 1926. Lulusan Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Indonesia (1955) ini pernah menjadi redaktur Pujangga Baru, Gema Suasana, Gelanggang, dan Citra Film. Karya-karya aslinya adalah: Tiga Menguak Takdir (1950; bersama Chairil Anwar dan Rivai Apin), Dari Suatu Masa Dari Suatu Tempat (1972), Mantera (1975), Mahkamah (1988). Selain banyak menulis skenario dan menyutradarai film, ia dikenal sebagai penerjemah andal dan produktif. Karya-karya terjemahannya, antara lain: Laut Membisu (1949; Vercors), Pangeran Muda (1952; Antoine de Saint Exupery), Enam Pelajaran bagi Calon Aktor (1960; Richard Bolslavsky), Rumah Perawan (1977; Kawabata Yasunari), Villa des Roses (Willem Elschot), Puteri Pulau (1977; Maria Dermout), Kuil Kencana (1978; Yukio Mishima), Pintu Tertutup (1979; Jean Paul Sartre), Julius Caesar (1979; William Shakespeare), Sang Anak (1979; Rabindranath Tagore); Catatan dari Bawah Tanah (1979; Dostoyevsky), Keindahan dan Kepiluan (1986; Nikolai Gogol).
Asrul Sani dilahirkan di Rao, Sumatera Barat, 10 Juni 1926. Lulusan Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Indonesia (1955) ini pernah menjadi redaktur Pujangga Baru, Gema Suasana, Gelanggang, dan Citra Film. Karya-karya aslinya adalah: Tiga Menguak Takdir (1950; bersama Chairil Anwar dan Rivai Apin), Dari Suatu Masa Dari Suatu Tempat (1972), Mantera (1975), Mahkamah (1988). Selain banyak menulis skenario dan menyutradarai film, ia dikenal sebagai penerjemah andal dan produktif. Karya-karya terjemahannya, antara lain: Laut Membisu (1949; Vercors), Pangeran Muda (1952; Antoine de Saint Exupery), Enam Pelajaran bagi Calon Aktor (1960; Richard Bolslavsky), Rumah Perawan (1977; Kawabata Yasunari), Villa des Roses (Willem Elschot), Puteri Pulau (1977; Maria Dermout), Kuil Kencana (1978; Yukio Mishima), Pintu Tertutup (1979; Jean Paul Sartre), Julius Caesar (1979; William Shakespeare), Sang Anak (1979; Rabindranath Tagore); Catatan dari Bawah Tanah (1979; Dostoyevsky), Keindahan dan Kepiluan (1986; Nikolai Gogol).
Sabtu, 21 September 2013
Rg.(Ronggo) Bagus Warsono (Agus Warsono)
Lahir dengan nama Rg.(Ronggo) Bagus Warsono lebih dikenal dengan Agus Warsono, SPd.MSi,dikenal sebagai sastrawan dan pelukis Indonesia. Lahir Tegal 29 Agustus 1965. Ayahnya seorang guru yang bernama Rg. Yoesoef Soegiono, (trah Ronggo Kastuba). Sejak kecil sudah senang membaca. Usia 10 tahun sudah menamatkan Api Dibukit Menoreh karya SH Mintardja. Kegemaran membaca ini sampai mendirikan Himpunan Masyarakat Gemar Membaca (1999). Mulai masuk Sekolah tinggal di Indramayu.Mengunjungi SDN Sindang II, SMP III Indramayu, SPGN Indramayu, (S1) STIA Jakarta , (S2) STIA Jakata. Tulisannya tersebar di berbagai media regional dan nasional. Redaktur Ayokesekolah.com.Pengalaman penulisan pernah menjadi wartawan Mingguan Pelajar, Gentra Pramuka, Rakyat Post, dan koresponden di beberapa media pendidikan nasional. Anggota PWI Cabang Jawa barat. Menikah dengan Rafiah Ross hinga sekarang, anak-anak Abdurrachman M.
Karya antara lain:
1. Rumahku di Tepi Rel Kereta Api (Kumpulan cerpen anak 1992)
2. Menanti hari Esok (antologi puisi)
3. Mata Air (antologi puisi)
4. Bunyikan Aksara Hatimu (BAH) (antologi puisi)
5. Si Bung (Bung Karn0) (antologi puisi)
Antologi bersama :
Puisi Menolak Korupsi (PMK II)
Cergam antara lain :
1. Si Kacung Ikut Gerilya
2. Kopral dali
3. Pertempuran Heroik Di Ciwatu
4. Pertempuran Selawe
5. Si Jagur
6. Panglima Indrajaya
7. Endang Dharma
8. Laskar Wiradesa
Buku-buku Pendidikan:
1.Bahasa Indramayu untuk SD/MI
2.Belajar membaca Kelas Rendah SD
3.Mengenal Anyaman
Penghargaan :
Penghargaan Karya Tulis Terbaik (PGRI Jabar 1996)
Penghargaan Cerita Anak Depdiknas 2004
Ani Idrus

Ani Idrus (lahir di Sawahlunto, Sumatera Barat, 25 November 1918 – meninggal di Medan, Sumatera Utara, 9 Januari 1999 pada umur 80 tahun) adalah seorang wartawati senior yang mendirikan Harian Waspada bersama suaminya H. Mohamad Said pada tahun 1947.
Ani Idrus dimakamkan di Pemakaman Umum Jalan Thamrin - Medan. Terakhir ia menjabat Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi Harian Waspada dan Majalah Dunia Wanita di Medan.
Selain berkecimpung dalam dunia jurnalistik, ia juga mendirikan dan memimpin lembaga pendidikan yang bernaung dalam Yayasan Pendidikan Ani Idrus. Pada akhir hayatnya, ia juga menjabat Ketua Umum Sekolah Sepak Bola WASPADA, Medan, Direktur PT. Prakarsa Abadi Press, Medan, dan Ketua Yayasan Asma Cabang Sumatera Utara.
Kurniawan Junaedhie

Kurniawan Junaedhie (lahir di Magelang, Jawa Tengah, 24 November 1956; umur 56 tahun) adalah sastrawan berkebangsaan Indonesia. Setamat SMA di Purwokerto, dia melanjutkan pendidikan di Sekolah Tinggi Publisistik (STP) Jakarta. Menulis pertama kali di rubrik anak-anak si Kancil, majalah Liberty, Surabaya sejak SD. Menulis puisi dan cerpen sejak 1974 dimuat di berbagai media massa di P. Jawa, seperti Majalah Horison, Kompas, Suara Karya, Suara Merdeka, Berita Nasional, Masa Kini, Jurnal Indonesia, Suara Pembaruan, dan Sinar Harapan. Buku puisinya antara lain; Rumpun Bambu (1975), Armagedon (1976), Waktu Naik Kereta Listrik (1997), dan lain-lain. Selain melakukan pertunjukan seni baca puisi, dia juga kerap diundang sebagai juri pembacaan puisi. Artis penyanyi Neno Warisman adalah salah satu peserta yang pernah tampil dalam ajang kompetisi saat Jun -sapaan akrabnya- menjadi juri festival baca puisi.
Djamil Suherman
Djamil Suherman dilahirkan di Surabaya, Jawa Timur, 24 April 1924, dan meninggal di Bandung, 30 November 1985. Karya-karyanya berupa puisi, novel dan cerita pendek: Muara (1958; bersama Kaswanda Saleh), Manifestasi (1963), Perjalanan ke Akhirat (1963; memenangkan hadiah kedua Majalah Sastra 1962), Umi Kulsum (1983), Pejuang-pejuang Kali Pepe (1984), Sarip Tambakoso (1985), Sakerah (1985).
BM Syamsuddin

BM Syamsuddin dilahirkan di Natuna, Kepulauan Riau, 10 Mei 1935, dan meningal di Bukitttingi, 20 Februari 1997. Karya-karyanya berupa puisi dan cerpen dimuat di antaranya di Kompas dan Suara Karya Minggu. Selain sejumlah buku cerita anak, ia menulis antara lain: Seni Lakon Mendu Tradisi Pemanggungan dan Nilai Lestari (1995) dan Seni Teater Tradisional Mak Yong.
Bur Rasuanto
Bur Rasuanto
Dikenal sebagai sastrawan, ia pernah memenangkan Hadiah Sastra untuk ceritanya Bumi yang Berpeluh tahun 1962 dan Mereka Akan Bangkit tahun 1963. Keduanya diterbitkan oleh Mega Bookstore ditahun 1963. Pernah aktif dalam perjuangan pemuda mahasiswa dalam aksi Angkatan’ 66. Semasa demonstrasi lahir sajak-sajak stensilannya seperti Mereka Telah Bangkit tahun 1966 dan lain-lain. Diantara sajak dan cerpen-cerpennya antara lain Liwat Tengah Hari, Telah Gugur Beberapa Nama, Tirani dan Discharge. Ditahun 1964, Bur Rasuanto pernah memenangkan Hadiah Sastra Yayasan Mohammad Yamin, tapi ditarik kembali karena hasutan Lekra/PKI.
Cerita-ceritanya yang lain, Piket yang semuanya dibuat tahun 1961, oleh HB Jassin dinilai sangat baik, idenya menarik dan kejadiannya mencekam. Novelnya Tuyet pernah dimuat di harian Kompas yang kemudian dibukukan tahun 1979. Novel Tuyet dibuatnya setelah ia mengunjungi pertempuran Vietnam ditahun 1967. Novel ini terpilih sebagai karya fiksi terbaik tahun 1979 dari Yayasan Buku Utama.
Selain sebagai sastrawan ia pernah dikenal sebagai wartawan harian Indonesia Raya dengan jabatan redaktur. Pernah menjadi wartawan perang harian KAMI, kemudian menjadi redaktur majalah Tempo. Menikah dengan Masnun Saleh, dikaruniai 4 orang anak, satu meninggal dunia. Berkulit kuning langsat oleh rekan-rekannya ia dikenal sebagai pemberani dan keras hati. Ia menggemari olahraga lari dan karate.
Pada tahun 1990 Bur Rasuanto ditunjuk menjadi Direktur PKJ-TIM menggantikan Drs. Soeparmo. Bur Rasuanto menata manajemen PKJ-TIM ke arah swastanisasi dengan gaya yang sangat berbeda dengan pendahulunya. Ia membebastugaskan kedua Wakil Kepala Badan Pengelola. Kemudian Ia mengembalikan 50 dari 72 orang karyawan PNS TIM ke induknya yaitu Dinas kebudayaan DKI Jakarta. Sebagai gantinya, ia memilih beberapa tenaga yang dianggap mampu untuk membantunya di bidang administrasi kantor, teknisi umum, dan operasional lapangan. Kesejahteraan karyawan ditanganinya dengan mendirikan kembali Koperasi Karyawan PKJ-TIM dan menambah modalnya. Tetapi, sebagai akibat dari kebijakan mengutamakan acara yang memasukan dana ke kantong TIM, Bur menyeleksi ketat program DKJ. Tindakan ini menimbulkan silang pikir dengan pimpinan DKJ dalam penyusunan program dan efisiensi pembiayaan. Pada tahun 1991 Bur Rasuanto akhirnya digantikan oleh Pramana Padmodarmaya.
A. RAHIM QAHHAR
A. RAHIM QAHHAR
Kelahiran 29 Juni 1943 ini hanya memperdalam pendidikan secara otodidak, setelah tamat SMA dan Qismul Ali. Aktivitas menulis sejak tahun 60-an disurat kabar terbitan Medan, kemudian cerpen-cerpennya dimuat dalam koran �Indonesia Raya� pimpinan Mochtar Lubis, juga majalah �Sastra� HB Jassin.
Dekade tahun 70-an mulai menulis puisi, novel dan naskah drama serta skenario televisi. Karya-karyanya banyak dimuat di koran lokal maupun Ibukota ( antara lain: Sinar Harapan, Republika, Media Indonesia) dan juga majalah Horison, majalah Dewan Sastera (Malaysia). Selalu hadir dalam setiap pertemuan sastra dan budaya yang dilangsungkan di Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand dan acap tampil dalam pembacaan puisi maupun cerpen dengan gayanya yang khas.
Selain memenangkan sayembara penulisan karya sastra, berupa naskah drama serta skenario sinetron, sebagai wartawan ia berulangkali pula memenangkan lomba karya tulis jurnalistik untuk tingkat nasional. Kini sejumlah karya berupa kumpulan pusi �Munajat�, dua kumpulan cerpen dan empat buah novelnya masih menumpuk untuk mencari penerbit.
Karya-karyanya yang sudah terbit antara lain:
Cerpen : TERMINAL, Sastra Leo Medan (1971), ABRAHAM YA ABRAHAM, Medan
Puisi (1984), TITIAN LAUT, DBP Malaysia
(1984), TITIAN LAUT III, DBP
Malaysia (1991), CERPEN-CERPEN
NUSANTARA MUTAKHIR, DBP
Malaysia (1991), DARI FANSHURI KE
HANDAYANI, Horison (2001),
HORISON SASTRA INDONESIA, Horison
(2002)
Puisi : PUISI, temu sastrawan Sumut (1977), BLONG,
Medan Puisi (1979),
MABUKKU PADA BALI, Medan Puisi (1983),
RANTAU, Yaswira Medan
(1984), SELAGI OMBAK MENGEJAR PANTAI
4,Kemudi Selangor Malaysia
(1988), SAJAK BUAT SADDAM HUSSEIN,
Medan Puisi (1991), PERISA,
jurnal puisi Melayu DBP Malaysia (1995,
1996, 1998, 2000), ANTOLOGI
PUISI INDONESIA, Angkasa Bandung
(1997), JEJAK, Dewan Kesenian
Sumut (1998), THE HORIZON OF HOPE,
Sastra Leo Medan (2000).
Naskah Drama: TITIAN LAUT II, DBP Malaysia (1986).
TERALI (2003) dipentaskan
Di Kuala Lumpur pada Festival Teater
2003 Malaysia.
Novel : LANGIT KIRMIZI, Marwilis Publisher Malaysia
(1987), MELATI MERAH,
Marwilis Publisher Malaysia (1988).
A. RAHIM QAHHAR
Kelahiran 29 Juni 1943 ini hanya memperdalam pendidikan secara otodidak, setelah tamat SMA dan Qismul Ali. Aktivitas menulis sejak tahun 60-an disurat kabar terbitan Medan, kemudian cerpen-cerpennya dimuat dalam koran �Indonesia Raya� pimpinan Mochtar Lubis, juga majalah �Sastra� HB Jassin.
Dekade tahun 70-an mulai menulis puisi, novel dan naskah drama serta skenario televisi. Karya-karyanya banyak dimuat di koran lokal maupun Ibukota ( antara lain: Sinar Harapan, Republika, Media Indonesia) dan juga majalah Horison, majalah Dewan Sastera (Malaysia). Selalu hadir dalam setiap pertemuan sastra dan budaya yang dilangsungkan di Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand dan acap tampil dalam pembacaan puisi maupun cerpen dengan gayanya yang khas.
Selain memenangkan sayembara penulisan karya sastra, berupa naskah drama serta skenario sinetron, sebagai wartawan ia berulangkali pula memenangkan lomba karya tulis jurnalistik untuk tingkat nasional. Kini sejumlah karya berupa kumpulan pusi �Munajat�, dua kumpulan cerpen dan empat buah novelnya masih menumpuk untuk mencari penerbit.
Karya-karyanya yang sudah terbit antara lain:
Cerpen : TERMINAL, Sastra Leo Medan (1971), ABRAHAM YA ABRAHAM, Medan
Puisi (1984), TITIAN LAUT, DBP Malaysia
(1984), TITIAN LAUT III, DBP
Malaysia (1991), CERPEN-CERPEN
NUSANTARA MUTAKHIR, DBP
Malaysia (1991), DARI FANSHURI KE
HANDAYANI, Horison (2001),
HORISON SASTRA INDONESIA, Horison
(2002)
Puisi : PUISI, temu sastrawan Sumut (1977), BLONG,
Medan Puisi (1979),
MABUKKU PADA BALI, Medan Puisi (1983),
RANTAU, Yaswira Medan
(1984), SELAGI OMBAK MENGEJAR PANTAI
4,Kemudi Selangor Malaysia
(1988), SAJAK BUAT SADDAM HUSSEIN,
Medan Puisi (1991), PERISA,
jurnal puisi Melayu DBP Malaysia (1995,
1996, 1998, 2000), ANTOLOGI
PUISI INDONESIA, Angkasa Bandung
(1997), JEJAK, Dewan Kesenian
Sumut (1998), THE HORIZON OF HOPE,
Sastra Leo Medan (2000).
Naskah Drama: TITIAN LAUT II, DBP Malaysia (1986).
TERALI (2003) dipentaskan
Di Kuala Lumpur pada Festival Teater
2003 Malaysia.
Novel : LANGIT KIRMIZI, Marwilis Publisher Malaysia
(1987), MELATI MERAH,
Marwilis Publisher Malaysia (1988).
Kelahiran 29 Juni 1943 ini hanya memperdalam pendidikan secara otodidak, setelah tamat SMA dan Qismul Ali. Aktivitas menulis sejak tahun 60-an disurat kabar terbitan Medan, kemudian cerpen-cerpennya dimuat dalam koran �Indonesia Raya� pimpinan Mochtar Lubis, juga majalah �Sastra� HB Jassin.
Dekade tahun 70-an mulai menulis puisi, novel dan naskah drama serta skenario televisi. Karya-karyanya banyak dimuat di koran lokal maupun Ibukota ( antara lain: Sinar Harapan, Republika, Media Indonesia) dan juga majalah Horison, majalah Dewan Sastera (Malaysia). Selalu hadir dalam setiap pertemuan sastra dan budaya yang dilangsungkan di Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand dan acap tampil dalam pembacaan puisi maupun cerpen dengan gayanya yang khas.
Selain memenangkan sayembara penulisan karya sastra, berupa naskah drama serta skenario sinetron, sebagai wartawan ia berulangkali pula memenangkan lomba karya tulis jurnalistik untuk tingkat nasional. Kini sejumlah karya berupa kumpulan pusi �Munajat�, dua kumpulan cerpen dan empat buah novelnya masih menumpuk untuk mencari penerbit.
Karya-karyanya yang sudah terbit antara lain:
Cerpen : TERMINAL, Sastra Leo Medan (1971), ABRAHAM YA ABRAHAM, Medan
Puisi (1984), TITIAN LAUT, DBP Malaysia
(1984), TITIAN LAUT III, DBP
Malaysia (1991), CERPEN-CERPEN
NUSANTARA MUTAKHIR, DBP
Malaysia (1991), DARI FANSHURI KE
HANDAYANI, Horison (2001),
HORISON SASTRA INDONESIA, Horison
(2002)
Puisi : PUISI, temu sastrawan Sumut (1977), BLONG,
Medan Puisi (1979),
MABUKKU PADA BALI, Medan Puisi (1983),
RANTAU, Yaswira Medan
(1984), SELAGI OMBAK MENGEJAR PANTAI
4,Kemudi Selangor Malaysia
(1988), SAJAK BUAT SADDAM HUSSEIN,
Medan Puisi (1991), PERISA,
jurnal puisi Melayu DBP Malaysia (1995,
1996, 1998, 2000), ANTOLOGI
PUISI INDONESIA, Angkasa Bandung
(1997), JEJAK, Dewan Kesenian
Sumut (1998), THE HORIZON OF HOPE,
Sastra Leo Medan (2000).
Naskah Drama: TITIAN LAUT II, DBP Malaysia (1986).
TERALI (2003) dipentaskan
Di Kuala Lumpur pada Festival Teater
2003 Malaysia.
Novel : LANGIT KIRMIZI, Marwilis Publisher Malaysia
(1987), MELATI MERAH,
Marwilis Publisher Malaysia (1988).
Rayani Sriwidodo
Rayani Sriwidodo dilahirkan di Kotanopan, Sumatera Utara 6 November 1946. Cerpennya “Balada Satu Kuntum” memperoleh penghargaan Nemis Prize dari Pemerintah Chile (1987). Karya-karya alumna Iowa Writing Program, Iowa University, Amerika Serikat ini antara lain: Pada Sebuah Lorong (1968; bersama Todung Mulya Lubis), Kereta Pun Terus Berlalu, Percakapan Rumput, Percakapan Hawa dan Maria (1989), Balada Satu Kuntum (1994), Sembilan Kerlip Cermin (2000).
Sajak RAYANI SRIWIDODO: KUDENGAR YANG TIDAK MEREKA DENGAR
Kudengar yang tidak mereka dengar
akar rambut, bulubulu bergetar
gumamku: agaknya demikianlah bermulanya
percakapan diam urat antara urat di wajahku
di sekujur tubuh
betul gaduh
sebentar:
sejauh mana cara keterikatan mengajak
kudengar yang tidak mereka dengar
ajakn lugu jantung yang mendadak berdebar
aku menunduk. senyum
ada yang dibisikkan. lama
: tapi selesai juga
1969
Horison, no.2, th. IX, Februari 1974
Sajak RAYANI SRIWIDODO: KUDENGAR YANG TIDAK MEREKA DENGAR
Kudengar yang tidak mereka dengar
akar rambut, bulubulu bergetar
gumamku: agaknya demikianlah bermulanya
percakapan diam urat antara urat di wajahku
di sekujur tubuh
betul gaduh
sebentar:
sejauh mana cara keterikatan mengajak
kudengar yang tidak mereka dengar
ajakn lugu jantung yang mendadak berdebar
aku menunduk. senyum
ada yang dibisikkan. lama
: tapi selesai juga
1969
Horison, no.2, th. IX, Februari 1974
Raudha Thaib
Raudha Thaib, yang bernama lengkap Puti Reno Raudhatul Jannah Thaib atau dikenal pula dengan nama pena Upita Agustine, (lahir di Pagaruyung, Tanah Datar, Sumatera Barat, 31 Agustus 1947; umur 65 tahun) adalah seorang sastrawan asal Indonesia dan ahli waris Kerajaan Pagaruyung. Ia merupakan istri dari sastrawan Wisran Hadi. Saat ini ia menjadi Ketua Umum Bundo Kanduang Sumatera Barat berdasarkan Mubes LKAAM pada bulan Juni 2010.
Upita Agustine
Upita Agustine dilahirkan di Pagaruyung, Sumatera Barat, 31 Agustus 1947. Puisi-pusinya dipublikasikan antara lain di Horison. Karya-karyanya: Bianglala (1973), Dua Warna (1975; bersama Hamid Jabbar), Terlupa dari Mimpi (1980), Sunting (1995; bersama Yvonne de Fretes), selain terdapat pula dalam antologi Laut Biru Langit Biru (1977; Ajip Rosidi [ed.]), Tonggak 3 (1987; Linus Suryadi [ed.]), Ungu: Antologi Puisi Wanita Penyair Indonesia (Korrie Layun Rampan [ed.]).
Upita Agustine
Upita Agustine dilahirkan di Pagaruyung, Sumatera Barat, 31 Agustus 1947. Puisi-pusinya dipublikasikan antara lain di Horison. Karya-karyanya: Bianglala (1973), Dua Warna (1975; bersama Hamid Jabbar), Terlupa dari Mimpi (1980), Sunting (1995; bersama Yvonne de Fretes), selain terdapat pula dalam antologi Laut Biru Langit Biru (1977; Ajip Rosidi [ed.]), Tonggak 3 (1987; Linus Suryadi [ed.]), Ungu: Antologi Puisi Wanita Penyair Indonesia (Korrie Layun Rampan [ed.]).
A.A. Navis
A.A. Navis dilahirkan Padangpanjang, Sumatera Barat, 17 November 1924. “Robohnya Surau Kami” dan sejumlah cerita pendek lain penerima Hadiah Seni dari Departemen P dan K pada 1988 ini, telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Jepang, Perancis, Jerman, dan Malaysia. Cerpen pemenang hadiah kedua majalah Kisah di tahun 1955 itu diterbitkan pula dalam kumpulan Robohnya Surau Kami (1956). Karyanya yang lain: Bianglala (1963), Hujan Panas (1964; Hujan Panas dan Kabut Musim, 1990), Kemarau (1967), Saraswati, si Gadis dalam Sunyi (1970; novel ini memperoleh penghargaan Sayembara Mengarang UNESCO/IKAPI 1968), Dermaga dengan Empat Sekoci (1975), Di Lintasan Mendung (1983), Alam Terkembang Jadi Guru (1984), Jodoh (1998).
Fanny J. Poyk
Fanny J. Poyk adalah seorang penulis cerpen produktif. Karya perempuan kelahiran Bima 1960 dimuat di berbagai media cetak nasional seperti Sinar Harapan, Suara Karya, Jurnal Nasional, Suara Pembaruan, Bali Post, Kartini dan Sarinah. Buku-bukunya yang sudah terbit antara lain Pelangi Di Langit Bali, Istri-istri Orang Seberang (Esensi, 2008), Perjuangan para Ibu : Anakku Pecandu Narkoba (Erlangga), Narkoba Sayonara (Esensi, 2006).
Meski lahir di Bima, Fanny menikmati masa kecil hingga ramajanya di Bali. Ia lalu kuliah di Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP) Jakarta. Seusai menamatkan kuliah, ia bekerja sebagai editor di tabloid anak-anak Fantasi, lalu ke majalah Potensi. Selain menulis, ia juga aktif dalam organisasi Wanita Penulis Indonesia (WPI). [MIS]
Prof. Dr. Muhammad Quraish Shihab, MA

Prof. Dr. Muhammad Quraish Shihab, MA
Nama lengkapnya adalah Muhammad Quraish Shihab. Ia lahir tanggal 16 Februari 1944 di Rappang, Kabupaten Sidenreng Rappang, Sulawesi Selatan.[1] Ia berasal dari keluarga keturunan Arab yang terpelajar. Ayahnya, Prof. Abdurrahman Shihab adalah seorang ulama dan guru besar dalam bidang tafsir. Abdurrahman Shihab dipandang sebagai salah seorang ulama, pengusaha, dan politikus yang memiliki reputasi baik di kalangan masyarakat Sulawesi Selatan. Kontribusinya dalam bidang pendidikan terbukti dari usahanya membina dua perguruan tinggi di Ujungpandang, yaitu Universitas Muslim Indonesia (UMI), sebuah perguruan tinggi swasta terbesar di kawasan Indonesia bagian timur, dan IAIN Alauddin Ujungpandang. Ia juga tercatat sebagai rektor pada kedua perguruan tinggi tersebut: UMI 1959-1965 dan IAIN 1972–1977.
Sebagai seorang yang berpikiran progresif, Abdurrahman percaya bahwa pendidikan adalah merupakan agen perubahan. Sikap dan pandangannya yang demikian maju itu dapat dilihat dari latar belakang pendidikannya, yaitu Jami’atul Khair, sebuah lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia. Murid-murid yang belajar di lembaga ini diajari tentang gagasan-gagasan pembaruan gerakan dan pemikiran Islam. Hal ini terjadi karena lembaga ini memiliki hubungan yang erat dengan sumber-sumber pembaruan di Timur Tengah seperti Hadramaut, Haramaian dan Mesir. Banyak guru-guru yang di¬datangkarn ke lembaga tersebut, di antaranya Syaikh Ahmad Soorkati yang berasal dari Sudan, Afrika. Sebagai putra dari seorang guru besar, Quraish Shihab mendapatkan motivasi awal dan benih kecintaan terhadap bidang studi tafsir dari ayahnya yang sering mengajak anak-anaknya duduk bersama setelah magrib. Pada saat-saat seperti inilah sang ayah menyampaikan nasihatnya yang kebanyakan berupa ayat-ayat al-Qur'an. Quraish kecil telah menjalani pergumulan dan kecintaan terhadap al-Qur’an sejak umur 6-7 tahun. Ia harus mengikuti pengajian al-Qur’an yang diadakan oleh ayahnya sendiri. Selain menyuruh membaca al-Qur’an, ayahnya juga menguraikan secara sepintas kisah-kisah dalam al-Qur’an. Di sinilah, benih-benih kecintaannya kepada al-Qur’an mulai tumbuh.[2]
Pendidikan formalnya di Makassar dimulai dari sekolah dasar sampai kelas 2 SMP. Pada tahun 1956, ia di kirim ke kota Malang untuk “nyantri” di Pondok Pesantren Darul Hadis al-Faqihiyah. Karena ketekunannya belajar di pesantren, 2 tahun berikutnya ia sudah mahir berbahasa arab. Melihat bakat bahasa arab yg dimilikinya, dan ketekunannya untuk mendalami studi keislamannya, Quraish beserta adiknya Alwi Shihab dikirim oleh ayahnya ke al-Azhar Cairo melalui beasiswa dari Propinsi Sulawesi, pada tahun 1958 dan diterima di kelas dua I'dadiyah Al Azhar (setingkat SMP/Tsanawiyah di Indonesia) sampai menyelasaikan tsanawiyah Al Azhar. Setelah itu, ia melanjutkan studinya ke Universitas al-Azhar pada Fakultas Ushuluddin, Jurusan Tafsir dan Hadits. Pada tahun 1967 ia meraih gelar LC. Dua tahun kemudian (1969), Quraish Shihab berhasil meraih gelar M.A. pada jurusan yang sama dengan tesis berjudul “al-I’jaz at-Tasryri’i al-Qur'an al-Karim (kemukjizatan al-Qur'an al-Karim dari Segi Hukum)”. Pada tahun 1973 ia dipanggil pulang ke Makassar oleh ayahnya yang ketika itu menjabat rektor, untuk membantu mengelola pendidikan di IAIN Alauddin. Ia menjadi wakil rektor bidang akademis dan kemahasiswaan sampai tahun 1980. Di samping mendududki jabatan resmi itu, ia juga sering mewakili ayahnya yang uzur karena usia dalam menjalankan tugas-tugas pokok tertentu. Berturut-turut setelah itu, Quraish Shihab diserahi berbagai jabatan, seperti koordinator Perguruan Tinggi Swasta Wilayah VII Indonesia bagian timur, pembantu pimpinan kepolisian Indonesia Timur dalam bidang pembinaan mental, dan sederetan jabatan lainnya di luar kampus. Di celah-celah kesibukannya ia masih sempat merampungkan beberapa tugas penelitian, antara lain Penerapan Kerukunan Hidup Beragama di Indonesia (1975) dan Masalah Wakaf Sulawesi Selatan (1978).
Untuk mewujudkan cita-citanya, ia mendalami studi tafsir, pada 1980 Quraish Shihab kembali menuntut ilmu ke almamaternya, al-Azhar Cairo, mengambil spesialisasi dalam studi tafsir al-Qur'an. Ia hanya memerlukan waktu dua tahun untuk meraih gelar doktor dalam bidang ini. Disertasinya yang berjudul “Nazm ad-Durar li al-Biqa’i Tahqiq wa Dirasah (Suatu Kajian dan analisis terhadap keotentikan Kitab Nazm ad-Durar karya al-Biqa’i)” berhasil dipertahankannya dengan predikat dengan predikat penghargaan Mumtaz Ma’a Martabah asy-Syaraf al-Ula (summa cum laude).
Pendidikan Tingginya yang kebanyakan ditempuh di Timur Tengah, Al-Azhar, Cairo ini, oleh Howard M. Federspiel dianggap sebagai seorang yang unik bagi Indonesia pada saat di mana sebagian pendidikan pada tingkat itu diselesaikan di Barat. Mengenai hal ini ia mengatakan sebagai berikut: "Ketika meneliti bio¬grafinya, saya menemukan bahwa ia berasal dari Sulawesi Selatan, terdidik di pesantren, dan menerima pendidikan ting¬ginya di Mesir pada Universitas Al-Azhar, di mana ia mene¬rima gelar M.A dan Ph.D-nya. Ini menjadikan ia terdidik lebih baik dibandingkan dengan hampir semua pengarang lainnya yang terdapat dalam Popular Indonesian Literature of the Quran, dan lebih dari itu, tingkat pendidikan tingginya di Timur Tengah seperti itu menjadikan ia unik bagi Indonesia pada saat di mana sebagian pendidikan pada tingkat itu diselesaikan di Barat. Dia juga mempunyai karier mengajar yang penting di IAIN Makassar dan Jakarta dan kini, bahkan, ia menjabat sebagai rektor di IAIN Jakarta. Ini merupakan karier yang sangat menonjol".[3]
Tahun 1984 adalah babak baru tahap kedua bagi Quraish Shihab untuk melanjutkan kariernya. Untuk itu ia pindah tugas dari IAIN Makassar ke Fakultas Ushuluddin di IAIN Jakarta. Di sini ia aktif mengajar bidang Tafsir dan Ulum Al-Quran di Program S1, S2 dan S3 sampai tahun 1998. Di samping melaksanakan tugas pokoknya sebagai dosen, ia juga dipercaya menduduki jabatan sebagai Rektor IAIN Jakarta selama dua periode (1992-1996 dan 1997-1998). Setelah itu ia dipercaya menduduki jabatan sebagai Menteri Agama selama kurang lebih dua bulan pada awal tahun 1998, hingga kemudian dia diangkat sebagai Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia untuk negara Republik Arab Mesir merangkap negara Republik Djibouti berkedudukan di Kairo.
Kehadiran Quraish Shihab di Ibukota Jakarta telah memberikan suasana baru dan disambut hangat oleh masyarakat. Hal ini terbukti dengan adanya berbagai aktivitas yang dijalankannya di tengah-tengah masyarakat. Di samping mengajar, ia juga dipercaya untuk menduduki sejumlah jabatan. Di antaranya adalah sebagai Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat (sejak 1984), anggota Lajnah Pentashhih Al-Qur'an Departemen Agama sejak 1989. Dia juga terlibat dalam beberapa organisasi profesional, antara lain Asisten Ketua Umum Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI), ketika organisasi ini didirikan. Selanjutnya ia juga tercatat sebagai Pengurus Perhimpunan Ilmu-ilmu Syariah, dan Pengurus Konsorsium Ilmu-ilmu Agama Dapertemen Pendidikan dan Kebudayaan. Aktivitas lainnya yang ia lakukan adalah sebagai Dewan Redaksi Studia Islamika: Indonesian journal for Islamic Studies, Ulumul Qur 'an, Mimbar Ulama, dan Refleksi jurnal Kajian Agama dan Filsafat. Semua penerbitan ini berada di Jakarta.
Di samping kegiatan tersebut di atas, M.Quraish Shihab juga dikenal sebagai penulis dan penceramah yang handal. Berdasar pada latar belakang keilmuan yang kokoh yang ia tempuh melalui pendidikan formal serta ditopang oleh kemampuannya menyampaikan pendapat dan gagasan dengan bahasa yang sederhana, tetapi lugas, rasional, dan kecenderungan pemikiran yang moderat, ia tampil sebagai penceramah dan penulis yang bisa diterima oleh semua lapisan masyarakat. Kegiatan ceramah ini ia lakukan di sejumlah masjid bergengsi di Jakarta, seperti Masjid al-Tin, Sunda Kelapa dan Fathullah, di lingkungan pejabat pemerintah seperti pengajian Istiqlal serta di sejumlah stasiun televisi atau media elektronik, khususnya di.bulan Ramadhan. Beberapa stasiun televisi, seperti RCTI dan Metro TV mempunyai program khusus selama Ramadhan yang diasuh olehnya.
Quraish Shihab memang bukan satu-satunya pakar al-Qur'an di Indonesia, tetapi kemampuannya menerjemahkan dan meyampaikan pesan-pesan al-Qur'an dalam konteks kekinian dan masa post modern membuatnya lebih dikenal dan lebih unggul daripada pakar al-Qur'an lainnya. Dalam hal penafsiran, ia cenderung menekankan pentingnya penggunaan metode tafsir maudu’i (tematik), yaitu penafsiran dengan cara menghimpun sejumlah ayat al-Qur'an yang tersebar dalam berbagai surah yang membahas masalah yang sama, kemudian menjelaskan pengertian menyeluruh dari ayat-ayat tersebut dan selanjutnya menarik kesimpulan sebagai jawaban terhadap masalah yang menjadi pokok bahasan. Menurutnya, dengan metode ini dapat diungkapkan pendapat-pendapat al-Qur'an tentang berbagai masalah kehidupan, sekaligus dapat dijadikan bukti bahwa ayat al-Qur'an sejalan dengan perkembangan iptek dan kemajuan peradaban masyarakat.
Quraish Shihab banyak menekankan perlunya memahami wahyu Ilahi secara kontekstual dan tidak semata-mata terpaku pada makna tekstual agar pesan-pesan yang terkandung di dalamnya dapat difungsikan dalam kehidupan nyata. Ia juga banyak memotivasi mahasiswanya, khususnya di tingkat pasca sarjana, agar berani menafsirkan al-Qur'an, tetapi dengan tetap berpegang ketat pada kaidah-kaidah tafsir yang sudah dipandang baku. Menurutnya, penafsiran terhadap al-Qur'an tidak akan pernah berakhir. Dari masa ke masa selalu saja muncul penafsiran baru sejalan dengan perkembangan ilmu dan tuntutan kemajuan. Meski begitu ia tetap mengingatkan perlunya sikap teliti dan ekstra hati-hati dalam menafsirkan al-Qur'an sehingga seseorang tidak mudah mengklaim suatu pendapat sebagai pendapat al-Qur'an. Bahkan, menurutnya adalah satu dosa besar bila seseorang mamaksakan pendapatnya atas nama al-Qur'an.[4]
Quraish Shihab adalah seorang ahli tafsir yang pendidik. Keahliannya dalam bidang tafsir tersebut untuk diabdikan dalam bidang pendidikan. Kedudukannya sebagai Pembantu Rektor, Rektor, Menteri Agama, Ketua MUI, Staf Ahli Mendikbud, Anggota Badan Pertimbangan Pendidikan, menulis karya ilmiah, dan ceramah amat erat kaitannya dengan kegiatan pendidikan. Dengan kata lain bahw ia adalah seorang ulama yang memanfaatkan keahliannya untuk mendidik umat. Hal ini ia lakukan pula melalui sikap dan kepribadiannya yang penuh dengan sikap dan sifatnya yang patut diteladani. Ia memiliki sifat-sifat sebagai guru atau pendidik yang patut diteladani. Penampilannya yang sederhana, tawadlu, sayang kepada semua orang, jujur, amanah, dan tegas dalam prinsip adalah merupakan bagian dari sikap yang seharusnya dimiliki seorang guru.
Beberapa buku yang sudah Ia hasilkan antara lain :
Tafsir al-Manar, Keistimewaan dan Kelemahannya (Ujung Pandang, IAIN Alauddin, 1984);
Menyingkap Tabir Ilahi; Asma al-Husna dalam Perspektif al-Qur'an (Jakarta: Lentera Hati, 1998);
Untaian Permata Buat Anakku (Bandung: Mizan 1998);
Pengantin al-Qur'an (Jakarta: Lentera Hati, 1999);
Haji Bersama Quraish Shihab (Bandung: Mizan, 1999);
Sahur Bersama Quraish Shihab (Bandung: Mizan 1999);
Panduan Puasa bersama Quraish Shihab (Jakarta: Penerbit Republika, Nopember 2000);
Panduan Shalat bersama Quraish Shihab (Jakarta: Penerbit Republika, September 2003);
Anda Bertanya,Quraish Shihab Menjawab Berbagai Masalah Keislaman (Mizan Pustaka)
Fatwa-Fatwa M. Quraish Shihab Seputar Ibadah Mahdah (Bandung: Mizan, 1999);
Fatwa-Fatwa M. Quraish Shihab Seputar Al Qur'an dan Hadits (Bandung: Mizan, 1999);
Fatwa-Fatwa M. Quraish Shihab Seputar Ibadah dan Muamalah (Bandung: Mizan, 1999);
Fatwa-Fatwa M. Quraish Shihab Seputar Wawasan Agama (Bandung: Mizan, 1999);
Fatwa-Fatwa M. Quraish Shihab Seputar Tafsir Al Quran (Bandung: Mizan, 1999);
Satu Islam, Sebuah Dilema (Bandung: Mizan, 1987);
Filsafat Hukum Islam (Jakarta: Departemen Agama, 1987);
Pandangan Islam Tentang Perkawinan Usia Muda (MUI & Unesco, 1990);
Kedudukan Wanita Dalam Islam (Departemen Agama);
Membumikan al-Qur'an; Fungsi dan Kedudukan Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat (Bandung: Mizan, 1994);
Lentera Hati; Kisah dan Hikmah Kehidupan (Bandung: Mizan, 1994);
Studi Kritis Tafsir al-Manar (Bandung: Pustaka Hidayah, 1996);
Wawasan al-Qur'an; Tafsir Maudhu'i atas Pelbagai Persoalan Umat (Bandung: Mizan, 1996);
Tafsir al-Qur'an (Bandung: Pustaka Hidayah, 1997);
Secercah Cahaya Ilahi; Hidup Bersama Al-Qur'an (Bandung; Mizan, 1999)
Hidangan Ilahi, Tafsir Ayat-ayat Tahlili (Jakarta: Lentara Hati, 1999);
Jalan Menuju Keabadian (Jakarta: Lentera Hati, 2000);
Tafsir Al-Mishbah; Pesan, Kesan, dan Keserasian al-Qur'an (15 Volume, Jakarta: Lentera Hati, 2003);
Menjemput Maut; Bekal Perjalanan Menuju Allah SWT. (Jakarta: Lentera Hati, 2003)
Jilbab Pakaian Wanita Muslimah; dalam Pandangan Ulama dan Cendekiawan Kontemporer (Jakarta: Lentera Hati, 2004);
Dia di Mana-mana; Tangan Tuhan di balik Setiap Fenomena (Jakarta: Lentera Hati, 2004);
Perempuan (Jakarta: Lentera Hati, 2005);
Logika Agama; Kedudukan Wahyu & Batas-Batas Akal Dalam Islam (Jakarta: Lentera Hati, 2005);
Rasionalitas al-Qur'an; Studi Kritis atas Tafsir al-Manar (Jakarta: Lentera Hati, 2006);
Menabur Pesan Ilahi; al-Qur'an dan Dinamika Kehidupan Masyarakat (Jakarta: Lentera Hati, 2006);
Wawasan al-Qur'an Tentang Dzikir dan Doa (Jakarta: Lentera Hati, 2006);
Asmâ' al-Husnâ; Dalam Perspektif al-Qur'an (4 buku dalam 1 boks) (Jakarta: Lentera Hati);
Sunnah - Syiah Bergandengan Tangan! Mungkinkah?; Kajian atas Konsep Ajaran dan Pemikiran (Jakarta: Lentera Hati, Maret 2007);
Al-Lubâb; Makna, Tujuan dan Pelajaran dari al-Fâtihah dan Juz 'Amma (Jakarta: Lentera Hati, Agustus 2008);
40 Hadits Qudsi Pilihan (Jakarta: Lentera Hati);
Berbisnis dengan Allah; Tips Jitu Jadi Pebisnis Sukses Dunia Akhirat (Jakarta: Lentera Hati);
M. Quraish Shihab Menjawab; 1001 Soal Keislaman yang Patut Anda Ketahui (Jakarta: Lentera Hati, 2008);
Doa Harian bersama M. Quraish Shihab (Jakarta: Lentera Hati, Agustus 2009);
Seri yang Halus dan Tak Terlihat; Jin dalam al-Qur'an (Jakarta: Lentera Hati);
Seri yang Halus dan Tak Terlihat; Malaikat dalam al-Qur'an (Jakarta: Lentera Hati);
Seri yang Halus dan Tak Terlihat; Setan dalam al-Qur'an (Jakarta: Lentera Hati);
M. Quraish Shihab Menjawab; 101 Soal Perempuan yang Patut Anda Ketahui (Jakarta: Lentera Hati, Maret 2010);
Al-Qur'ân dan Maknanya; Terjemahan Makna disusun oleh M. Quraish Shihab (Jakarta: Lentera Hati, Agustus 2010);
Membumikan al-Qur'ân Jilid 2; Memfungsikan Wahyu dalam Kehidupan (Jakarta: Lentera Hati, Februari 2011);
Membaca Sirah Nabi Muhammad SAW, dalam sorotan Al-Quran dan Hadits Shahih (Jakarta: Lentera Hati, Juni 2011);
Do'a al-Asmâ' al-Husnâ (Doa yang Disukai Allah SWT.) (Jakarta: Lentera Hati, Juli 2011);
Tafîr Al-Lubâb; Makna, Tujuan, dan Pelajaran dari Surah-Surah Al-Qur'ân (Boxset terdiri dari 4 buku) (Jakarta: Lentera Hati, Juli 2012)
Langganan:
Postingan (Atom)


.jpg)

